Pembelajaran Selama Pandemi Covid 19 dan Berbagai Dilemanya

oleh -834 views

Palembang, okupos.comSemenjak pandemi covid 19 melanda Indonesia khususnya di kawasan Sumatera Selatan tentunya banyak sekali kebijakan-kebijakan pemerintah yang berubah. Salah satunya kebijakan pada sektor pendidikan yang selama ini kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah maupun di kampus namun atas kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional proses pembelajaran dialihkan dengan sistem daring atau pembelajaran secara online.

Tentunya, kebijakan tersebut membuat sejumlah tenaga pengajar harus berinovasi untuk menciptkan suatu media pembelajaran agar proses pembelajaran bisa berlangsung sebagaimana mestinya. Dari sekian banyak tenaga pengajar di seluruh dunia, salah satunya yang dilakukan oleh Ibu Hayatun Nufus, M.Pd., selaku dosen di Universitas PGRI Palembang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Hayatun Nufus yang akrab disapa dengan Ibu Hayatun ini memaparkan kepada media ini melalui whatsapp pribadinya bahwa selama masa pandemi covid 19 ini sudah jelas proses perkulihan berubah dari tatap muka secara langsung menjadi proses perkuliahan online. “Ya, kita sebagai dosen sudah pasti mesti kreatif, inovatif dan aktif dalam menciptakan kegiatan belajar mengajar walaupun tidak adanya interaksi langsung dengan mahasiswa”. ujarnya (Jumat, 5/6/2020).

Hayatun menambahkan bahwa dalam menyikapi proses perkuliahan online ini banyak sekali media yang bisa dipergunakan dalam pembelajaran daring ini seperti classroom, whatsapp, google meet, zoom, e-learning. “Dari kesemua media tersebut pihak kampus Universitas PGRI Palembang telah menyediakan zoom mettings dan e-laerning bahkan saya kira Perguruan Tinggi lainnya pun sama halnya yang kita terapkan di kampus ini” ungkapnya.

BACA JUGA  Berstatus Istri Orang, 2 Tahun Menikah Sirih Linda dan Aan Ditangkap Polisi

“Dari sekian banyak media tersebut yang sering diterapkan classroom dan whatsapp. Namun, sesekali menggunakan zoom mettings. Kenapa saya lebih banyak menggunakan classroom dan whatsapp di bandingkan dengan zoom mettings ataupun google meet?. Karena mengingat banyaknya mahasiswa yang merasa keberatan kalau sering menggunakan video call. Alasan mahasiswa kebanyakan takut koutanya cepat habis” tutur Hayatun dalam emo senyum.

“Bukan itu saja, alasan kenapa saya menggunakan sistem perkuliahan dengan media classroom dan whatsapp yakni mengingat tidak semua mahasiswa dapat dengan mudah mendapatkan akses internet. Jangankan menggunakan zoom atau video call untuk belajar menggunakan classroom atau whatsapp saja terkadang tidak terjangkau.” tegasnya.

Hayatun Nufus selain dosen juga merangkap sebagai Dewan Pembina Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini menjelaskan bahwa kendala terbesar yang dihadapi para dosen maupun tim pengajar lainnya dalam hal proses pembelajaran daring ini adalah jaringan dan kouta internet.

“ Apabila jaringan internet tidak bersahabat dan kourta internet juga habis sering kali proses pembelajaran terputus. Kendala inilah yang sering mahasiswa bahkan kami sebagai tenaga pengajar kesulitan dalam menyampaikan materi pembelajaran pada mahasiswa. Bahkan jika listrik padam dan hari hujan yang mengakibatkan gangguan pada jaringan dengan terpaksa selesai pula perkuliahan”. tambahnya.

Namun, kendala-kendala tersebut bukan suatu permasalahan besar buat Hayatun. Beliau tetap memutar otak agar materi yang disampaikan kepada mahasiswa selesai sesuai dengan Satuan Acara Perkuliahan (SAP) dan Rancangan Acara Perkuliahan (RAP). “Saya mencari media yang mudah dan tidak banyak menyedot kuota yakni yang saya jelaskan sebelumnya menggunakan classroom atau whatsapp. Karena syarat utama terjadinya proses pembelajaran adalah adanya interaksi antara pendidik dan peserta didik. Walaupun interaksi tersebut hanya menggunakan bahasa tulisan” tuturnya.

BACA JUGA  Bupati OKU Hadiri Acara Tablingh Akbar Peringatan Isro'Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Dibalik kekurangan dari penerapan pembelajaran daring tentunya ada beberapa keunggulan dari pembelajaran ini. Salah satunya ialah mahasiswa jauh lebih aktif dan berpikir kritis untuk mencari informasi pengetahuan walaupun hanya sekedar copy paste dari internet.

“Hal ini saya sangat memberikan apreasi bagi mahasiswa dalam hal keaktifan mereka mencari informasi dan berdiskusi. Beda halnya dengan tatap muka langsung mahasiswa yang kurang aktif dia hanya diam dan terkesan menunggu jawaban dari orang lain. Nah kalu di daring mereka harus mencari informasi tanpa menunggu jawaban teman sebayanya” ujar Hayatun dengan emo senyum.

“Satu hal yang menurut saya kelebihan berikutnya ialah segala aktivitas kalian akan tercatat dan tidak akan hilang. Itu memudahkan saya untuk memberikan penilaian. Baik penilaian ranah kognitif bahkan afektif. Jika ranah psikomotrik tentu harus adanya tatap muka”.

Semoga pandemi covid 19 cepat berlalu dan proses pembelajaran bisa berjalan seperti biasanya “Samangat Terus Tenaga Pendidik Indonesia untuk Menciptakan Generasi Bangsa yang Unggul Demi Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional# #Tunjukkan 4 Kompetensi Profesional Kita Sebagai Tumpuhan Bangsa#pungkasnya. (rill/Danu)