MASA DEPAN INDONESIA TAK TERBAYANGKAN LAGI

oleh -1.545 views
Jonggol.OKU POS.Com – Semalam saya kedatangan tamu dua (2) orang anak muda petani pemula, yang didampingi Bosnya Pasar Induk Modern Paskomnas Bapak Soekam Purwadi. Mereka berdua alumni ITB dan UI sudah banyak pengalaman lama di luar negeri. Saya perhatikan dengan jeli, sekalipun latar belakang pendidikan formalnya non ilmu pertanian tapi cara berpikirnya jauh beda dibandingkan umumnya petani kita. Seolah memberikan harapan baru yang beda, jelas dan terukur.
.
Sepulangnya tamu tersebut saya coba merenungkan, andaikan para pelaku usaha di Indonesia ke depan seperti mereka tentu akan beda hasilnya. Apalagi pelaku usaha pertanian (petani) jauh beda dari yang selama ini, jika kita sukses membangun SDM unggul yang inovatif kompetitif maka hasilnya niscaya juga akan inovatif kompetitif pula. Ini yang akan memacu percepatan majunya Indonesia ke depan, karena merekalah simpul – simpul masyarakat yang sekaligus lokomotif perubahan bangsa ini.
.
Ilustrasi sederhananya ;
1. Selama ini Indonesia ekspor kelapa sekitar 12 milyar butir/tahun ke berbagai negara inovatif, lalu setelah diproses dengan teknologi tinggi hasilnya kita impor lagi. Andaikan kelapa itu tidak kita ekspor glondongan tapi diproses dulu tak ubahnya di Thailand, RRC dan negara besar lainnya, setelah nilai 10x lipatnya dari kelapa glondongan barulah kita ekspor. Maka laba wujud devisa akan besar sekali, akan tercipta lapangan pekerjaan dengan jumlah banyak, itu akan terwujud jika kita sejak dini menyiapkan SDM unggul wirausahawan yang inovatif seperti mereka di atas.
.
2. Selama ini produksi CPO (minyak mentah sawit) kita 46 juta ton/tahun dari luas tanam 14,6 juta ha, dominan masih kita ekspor ke berbagai negara diproses dengan teknologi juga lalu diekspor ke negara lebih maju lagi. Jadi bahan pangan, energi, kosmetik, farmasi dan  lainnya. Andaikan kita bisa membangun SDM unggul wirausahawan inovatif tak ubahnya di negara importir CPO seperti India, UE, RRC dan lainnya. Maka nilai tambahnya bisa berlipat – lipat lagi. Jadi pajak, devisa, kesejahteraan masyarakat dan seterusnya.
.
Dua komoditas di atas nyata ” nilai jual/selling point “, Indonesia karena negara lain tidak punya sebanyak Indonesia, padahal selain komoditas di atas, masih sangat banyak lagi komoditas lain milik Indonesia. Semua butuh sentuhan konkret oleh para milenial, butuh kecepatan merespon dengan tindakan nyata inovatif. Hal paling ditakutkan negara lain adalah jika punya pasar, punya teknologi inovasi tapi bahan bakunya tergantung dari negara lain. Jika negara produsen memberhentikan ekspornya bahan baku maka akan jadi masalah besar negara tersebut, tak ubahnya nikel distop ekspornya oleh indonesia ke Uni Eropa saat ini. Tak ubahnya juga, umpama gula, sapi, gandum, susu maupun kedelai jika distop ekspornya oleh negara asal maka Indonesia akan menghadapi masalah serius.
.
Semoga bermanfaat..
Salam Wirausahawan Inovatif 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
BACA JUGA  Ciptakan Rasa Aman, Polres OKU Selatan Laksanakan Pengamanan Sholat Idul Adha