MENGKAJI KEJADIAN TERKAIT PRAKTEK POLITIK PERTANIAN

oleh -1.371 views

Cibubur.OKU POS.Com – *Para pakar/ahli pertanian harus ikut bertanggung jawab terhadap indikasi, makin banyaknya impor pengusaha (PMA) di lahan pertanian dan indudtri agro. Impor pangan ratusan trilyun/tahun, kaburnya petani 5,1 juta KK/10 tahun (BPS). Pertanda tidak baik, butuh kaji ulang tanpa bergincu mencari kalimat pembenaran, ksatria tanpa menyalahkan pihak lain.*

Pasti kita masih ingat, Jakarta sebagai barometer ekonomi nasional bergejolak naik inflasinya akibat naiknya bahan pangan. Misal saja beberapa tahun silam harga daging sapi tembus Rp. 150.000/kg, bawang putih Rp. 80.000/kg.

Jika di urai, itu terjadi akibat pemodal besar sebagai importir sapi dan bawang putih lagi ngajak ” guyon/bercanda ” masyarakat Jakarta. Utamanya pejabat pengendali ekonomi yang terkait langsung dengan inflasi.

Mereka tahu persis bahwa Jabodetabek butuhnya sapi tak lebih dari 10.000 ekor, setara Rp. 300 milyar dalam ruas siklus ekonomi. Tahu persis juga bahwa butuhnya bawang putih tak lebih dari 50.000 ton, setara Rp. 80 milyar dalam ruas siklus ekonomi.

BACA JUGA  BUPATI OKU UCAPKAN SELAMAT KEPADA 358 MAHASISWA UNBARA

Tapi mereka juga tahu persis bahwa posisinya sangat strategis dan dibutuhkan masyarakat luas. Kalau mereka bersepakat import, lalu tidak cepat dijual lagi ke pasar memenuhi permintaan rutinnya. Tetap sapinya dikandangkan dan bawang putihnya digudangkan.

Praktis barang tersebut langka di pasar, daya suplai tak sebanding/seimbang dengan daya permintaan. Harga kontan naik, biaya hidup masyarakat naik. Inflasi pun ikutan naik tajam. Bisa jadi mrnyeret barang lainnya dan akhirnya angka kemiskinan bertambah.

Kenapa terjadi, karena kebutuhan pemenuhan sapi impor 1,3 juta ekor/tahun dan bawang putih hanya 600.000 ton/tahun. Sudah terlanjur besar, tapi itu tidak banyak bagi mereka importir, tapi itulah sumbunya. Makro bisa dikendalikan oleh pelaku mikro, dampak langsung akibat tidak swasembada karena kurang pembinaan.

Itu terjadi karena peran insan politik pertanian tumpul, pemilik kekuasaan kebijakan makro tidak berpihak. Petani peternak dibiarkan kalah bersaing lalu tidak mau lagi menanam bawang putih dan ternak sapi. Mereka petani dan peternak dibiarkan kabur massal hingga 0,51 juta KK/tahunnya (BPS).

BACA JUGA  BARISTA KOPI BERSAMA KAPOLRES OKU SELATAN

Padahal idealnya pelaku usahanya sebelum kabur harus dicari, ditemukan, ditanya dan diberi solusinya agar kompetitif karena menekan HPP (biaya produksi) nya. Agar mampu mengimbangi lawannya petani peternak di luar negeri sana, agar mereka tak lagi bisa jualan ke Indonesia.

Misal dengan iklim usaha yang sehat, infrastruktur produksi yang baik, bunga bank rendah, tata niaga berpihak, inovasi membumi dan lainnya. Terpenting harus membangun SDM unggul pelaku usaha agro sebagai rohnya sektor tersebut. Baik di lahan maupun di industri hilir sebagai lokomotifnya.

Strategi politik pertanian seperti itulah yang dilakukan negara – negara lain, dalam mengkaryakan rakyatnya sebagai upaya swasembada pangan harga murah wajar yang berkelanjutan. Bukan impor pangan yang makin membesarkan petani peternak luar negeri karena itu pesaing kita.

Salam Integritas 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani