Peserta Festival Kompetisi Burung Kicau di Gor Baturaja Kecewa

oleh -6.304 views

Baturaja.OKU POS.Com – Puluhan pecinta burung baik yang tergabung didalam klub maupun secara independen (Perorangan) dari berbagai wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), beramai-ramai mendatangi Gedung Olahraga (GOR), yang berada di wilayah Desa Tanjung Baru, Kota Baturaja, Kabupaten OKU. Untuk mengikuti kontes festival kompetisi burung berkicau dalam memperebutkan piala DPC Ronggolawe OKU, Minggu (28/4/19).

Adapun jenis burung kicau yang di lombakan berupa burung Love bird, Murai Batu, Kacer, Konin, Kenari dan Pleci. Yang mana burung-burung pilihan dari pemiliknya ini akan diadu suaranya sesama jenis burung tersebut. Yang dilombakan secara bergantian dibawah satu tenda, tergantung kelas dan jenis burung itu masing-masing.

Namun kontes festival yang diselenggarakan tidaklah gratis, melainkan peserta harus membeli tiket terlebih dahulu kepada panitia kontes, dengan harga yang bervariasi, tergantung kelas mana yang akan diikuti. Dimulai dari harga terendah Rp.30 ribu sampai Rp.100 ribu lebih.

BACA JUGA  Menyehatkan, Kegiatan Gowes Brompton Owner Sriwijaya (BOS) Di Ikuti Langsung Bupati - Wakil Bupati OKU Selatan¬†

Meski festival lomba kicau burung ini berjalan lancar, akan tetapi bukan berarti terhindar dari keluhan dan protes para peserta pecinta burung terhadap cara kerja panitia kontes. Yang dinilai kurang profesional dalam bekerja menangani situasi di lapangan.

Hal ini diutarakan Zairi (54), peserta sekaligus ketua dari klub Madu asal Desa Batumarta unit 1, Kabupaten OKU. Yang mana Zairi beserta sepuluh anggotanya bersama burung peliharaan masing-masing sengaja jauh-jauh datang ke lokasi hanya untuk mengikuti kontes.

“Kami merasa kecewa akan cara kerja panitia kontes ini, sebab yang kami harapkan seharusnya para juri kontes ini harus bisa benar-benar menilai burung. Soalnya kami yang ikut kontes ini bukan ingin mengharapkan uang. Melainkan berharap jika ada burung yang berprestasi dan bagus itulah yang seharusnya di menangkan. Jika jurinya tidak suceng, ya jelas kami kecewa ,”ungkap Zairi, yang mengaku mendapat info kontes melalui medsos atau facebook.

BACA JUGA  Pergantian Jitu Luis Milla yang Mengantar Indonesia ke Semifinal

Hal senada juga disampaikan klub Madu Ami, yang diketuai oleh Ami (43) sendiri, yang mana ia juga merasakan kecewa akan cara kerja panitia kontes di lapangan. Pasalnya Ami menilai jika kontes yang diadakan tidak terencana dengan baik, sebab suara sorak penonton lebih riuh bila dibandingkan kicau suara burung yang ikut kontes.

“Keluhan kami, jika panitia akan mengadakan kontes seperti ini seharusnya bisa terencana dengan baik. Jangan sampai suara penonton ataupun peserta lain yang berteriak lebih besar dibandingkan kicau suara burung saat sedang dipajang mengikuti kontes yang sedang berlangsung ,”keluh Ami.

Lebih dalam dikatakannya ,”Jika suara penonton ataupun peserta lain lebih keras dari pada suara burung, otomatis burung jadi takut dan bingung, sehinga burung pun enggan berkicau sesuai harapan. Apalagi ini jarak tenda dengan peserta yang menonton cuma sekitar 5 meter ,”sesal Ami. (RMW)

No More Posts Available.

No more pages to load.