Wayan Supadno : Ini Harapan Petani kepada Menteri Pertanian yang Baru Dilantik

oleh -906 views
Baturaja.OKU POS.Com – Kepemimpinan Kementerian Pertanian hari ini resmi diserahterimakan, dari pejabat (Menteri Pertanian) lama, Andi Amran Sulaiman kepada Syahrul Yasin Limpo (SYL), Rabu (23/10/2019) di Istana Negara Jakarta.
Keduanya (pejabat lama dan baru) sama-sama hebatnya, dan mereka juga merupakan mutiara dari Sulawesi Selatan, serta keduanya menyandang predikat inspirator Indonesia.
Dimata Wayan Supadno, Praktisi Pertanian, Mantan Mentan, Amran merupakan sosok pemimpin yang banyak membawa perubahan pada masyarakat pertanian dan Kementan khususnya. “Selalu membangun psikologi optimisme, mengubah etos kerja dengan totalitas, modernisasi pertanian, selali membuat target diatas sedikit dari ukurannya,” ujar Wayan, Rabu (23/10/2019) kepada bernas.id.
Hingga awalnya dulu di lingkungan Kementan banyak yang mengaku kelelahan mengikuti targetnya. “Strateginya fokus dan siap dikontrol oleh siapapun saja, dan kapan saja, termasuk oleh masyarakat maupun KPK,” terangnya.
Kedepannya, tentu akan masih ada problematika pertanian dan petani yang harus diberesi oleh Menteri Pertanian yang baru, seperti, Indonesia kekurangan petani muda unggul inovatif ekspansif, jumlahnya sangat besar sekali. Minimal harus ada 10 juta lagi guna menjawab kebutuhan pasar pangan dari penduduk Indonesia yang tak lama lagi 300 juta jiwa dan target Indonesia jadi lumbung pangan dunia saat Ultah ke 100 tahun, pada 2045. “Jika benar bahwa Indonesia mau mewujudkan jadi satu dari 5 negara terkuat ekonominya di atas bumi ini,” sambung Wayan.
Kemudian sektor pertanian hulu hingga hilir butuh dana segar baru untuk investasi yang produksinya bisa memenuhi hal di atas sebanyak minimal Rp 1.500 trilyun. Ini tentu butuh partisipasi dari masyarakat luas di luar APBN/APBD. “Itulah sebabnya dibutuhkan pelaku usaha baru selain dari yang ada selama ini, minimal 10 juta orang lagi dengan kontribusi investasinya di atas Rp 1.500 trilyun,” katanya.
Kemudian, skala prioritas jika sesuai visi Kementan, mewujudkan swasembada pangan, dan mewujudkan kesejahteraan petani. “Dua visi yang bertolak belakang jika benar – benar diterapkan karena ragam masalahnya. Termasuk indeks kepemilikan lahan hanya 0,3 ha/KK sebanyak lebih 14 juta KK (BPS). Jika ini ditanam padi jagung kedelai maka akan mengorbankan visi kedua. Inovasi yang belum membumi dan pasar masih berpihak hasil inovasi dari luar negeri. Infrastruktur produksi belum optimal. Bunga bank tinggi dan sulit diakses. Tata niaga yang masih carut marut,” tegasnya.
Jika mau meraih prestasi kembali mengenggam yang telah hilang butuh energi ekstra. Misal mau swasembada lagi, bahkan yang dulu bisa ekspor sekarang justru impor di antaranya sapi, gula, susu, kedelai, singkong dan lainnya. “Yang kalau ditotal minimal Rp 1.500 trilyun dana segar untuk investasi ekspansif yang intensif nuansa inovatif. Tentu masih banyak lagi. Apalagi kalau dikaitkan produk subtropis yang telah menggerus pasar pangan kita, misal impor gandum sudah tembus 12 juta ton/tahun. Tentu makin besar lagi,” imbuhnya.
Sehingga, tutup Wayan, tetap butuh strategi skala prioritas agar petani makmur sejahtera jadi pemancing hadirnya pelaku baru massal sifatnya. Pangan tercukupi dengan harga kompetitif agar inflasi terkendali tanpa mengganggu proses pembangunan lainnya, misal akibat pangan yang mahal tidak kompetitif. “Intinya beri solusi kongkrit ke petani agar harga bisa kompetitif dengan menekan harga pokok produksi (HPP) nya. Bahkan jika diadu dengan impor sekalipun tetap menang. Petani tetap terbukti bisa makmur sejatera karena laba sehat, akhirnya yang setia dengan profesi petani/peternak makin banyak lagi,” pungkasnya. (Wahyu)
BACA JUGA  "Extrem"Jalan Menuju Pemandian Air Panas Danau Ranau Butuh Akses Jalan Yang Lebih Baik